Chapter 118 - Merasa Dicintai | Once a mobster, now Masachika Kuze
Chapter 118 - Merasa Dicintai
Riko terus menatapnya, matanya bersinar dengan campuran antara kerentanan dan tekad. Napasnya yang terengah-engah dan cepat bergema dalam keheningan ruangan, saat kata-kata keluar dari mulutnya seperti desahan yang sarat dengan emosi: "Ryan... Biarkan aku berpura-pura... bahwa aku memilih sesuatu sekali dalam hidupku..."
Suaranya yang lemah dan rapuh, pecah di akhir, seolah-olah setiap suku kata mengandung beban dari semua keputusan yang tidak pernah sempat diambilnya. Setetes air mata mengalir deras, mengalir lembut di wajahnya, tetapi dia tidak menghapusnya. Seolah-olah air mata itu adalah bukti bahwa, untuk pertama kalinya, dia benar-benar merasakan, menjalani, dan memilih.
Dia mendesah dalam-dalam, seolah mengumpulkan semua keberaniannya, lalu berbicara, dengan ketegasan yang kontras dengan getaran suaranya: "Aku tidak menangis sebanyak itu di kamar mandi untuk mengambil keputusan tanpa hasil!"
Tangannya sedikit gemetar, tetapi tatapannya tertuju pada Ryan, menantang dan sekaligus memohon pengertian.
Mata Ryan membelalak, terkejut bukan hanya oleh kata-kata itu, tetapi juga oleh intensitas Riko yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Seolah-olah ada tirai yang ditarik, memperlihatkan bagian dirinya yang selalu tersembunyi di bawah lapisan keraguan dan ketakutan.
Dia menelan ludah, merasakan beratnya kerentanan yang diberikan wanita itu padanya.
Riko melanjutkan, suaranya cemberut, tetapi masih mengandung rasa manis yang membuat hati Ryan menegang: "Kamu akan menjadi pacarku sampai besok, bukan?"
Ada campuran harapan dan ketakutan dalam kata-katanya, seolah-olah dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini nyata, bahwa dia bisa mendapatkan ini, meskipun hanya untuk satu malam.
Ryan mengalihkan pandangannya sejenak, seolah-olah ia butuh waktu sedetik untuk mencerna semua ini. Namun kemudian, ia mengisi paru-parunya dengan udara, seolah-olah ia bersiap untuk menyelam ke dalam air yang dalam, dan menatap balik ke arahnya secara langsung. "Ya. Aku sudah berjanji, bukan?"
Suaranya lembut, tetapi tegas, seolah-olah dia mencoba menyampaikan bahwa, apa pun yang terjadi, dia akan ada di sana. Dia telah berjanji.
Riko bertekad, duduk di tempat tidur dengan kaki terlipat, cahaya hangat lampu menciptakan bayangan lembut di wajah dan tubuhnya. Ruangan itu diselimuti keheningan yang hampir nyata, seolah-olah dunia luar telah menghilang, hanya menyisakan mereka berdua di ruang yang intim dan rapuh itu. Dia sedikit tersipu, ekspresi jengkel yang manis melintas di wajahnya, tetapi ada sesuatu yang lebih di sana, sesuatu yang tidak bisa diungkapkan Ryan. Seolah-olah dia sedang melawan dirinya sendiri, melawan semua rasa tidak aman yang telah membuatnya terperangkap begitu lama.
Dia perlahan mengangkat bajunya, memperlihatkan kulit perutnya yang lembut, yang naik turun seiring dengan napasnya yang cepat.
Kemeja itu terus terangkat, suara kain terlipat dan payudaranya yang kecil namun kencang dan sangat menggemaskan terlihat kemudian, dan Ryan merasakan udara meninggalkan paru-parunya. Putingnya, dalam rona merah muda yang lembut, tampak menggoda di bawah cahaya lampu yang lembut, dan dia tidak bisa berpaling. Setiap detailnya adalah sebuah karya seni, kombinasi antara kepolosan dan sensualitas yang membuatnya terengah-engah.
(Saya tidak bisa menambahkan +18 gambar di Webnovel... Tapi kalau kalian ingin melihat payudara Riko yang indah... patreon.com/ErisNoSeraph, percayalah, payudaranya sangat imut...)
Dengan suara malu-malu, hampir seperti bisikan, Riko menatap Ryan dan berkata, "Jadi... Jaga aku sampai besok, bodoh." Ada rasa manis dalam kata "bodoh" itu, yang membuat Ryan tersenyum dalam hati, bahkan saat tubuhnya bereaksi saat melihatnya.
Seolah-olah dia berusaha mempertahankan ketenangan dalam situasi tersebut, seolah-olah dia perlu berpegang pada sesuatu yang familiar agar tidak sepenuhnya tersesat dalam intensitas tersebut.
Ryan tidak bisa mengalihkan pandangan darinya. Perut Riko yang sedikit membuncit, pusarnya yang imut, beserta payudaranya yang kecil dan menggemaskan, adalah pemandangan yang tidak bisa diabaikannya. Putingnya yang merah muda seakan memanggilnya, dan ia merasakan kehangatan yang tumbuh di tubuhnya. Setiap detail dirinya menggoda, tetapi lebih dari itu. Itu adalah keberaniannya, kerentanannya, cara ia memberikan dirinya kepadanya, meskipun hanya untuk satu malam. Ia berpikir, hampir tanpa sadar: "Sial... dia begitu seksi sehingga aku bahkan tidak akan menyebutkan betapa konyolnya dia memanggilku bodoh sambil memperlihatkan payudaranya..." Tetapi itu lebih dari sekadar ketertarikan fisik. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, sesuatu yang melampaui kata-kata.
Ryan mendesah dalam-dalam, suaranya rendah dan sarat dengan hasrat yang nyaris tak tertahan, tetapi masih berusaha mempertahankan kendali. "Riko, apakah kamu yakin ini yang kamu inginkan? Aku tidak ingin memanfaatkanmu di saat seperti ini…" Kata-katanya hati-hati, seolah-olah dia mencoba melindungi sesuatu yang rapuh, sesuatu yang tidak ingin dia hancurkan. Ada ketegangan di udara, campuran hasrat dan kekhawatiran yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Riko, yang masih memegang baju piyamanya, semakin tersipu, tetapi tidak mengalihkan pandangannya. Payudaranya sedikit bergoyang, dengan cara yang polos sekaligus provokatif, seolah-olah dia mencoba menegaskan dirinya dalam situasi itu. "Tentu saja aku yakin... Apakah kau akan membiarkan seorang gadis yang kau kencani menunggu dengan payudaranya terbuka?" Dia mengerutkan alisnya saat berbicara, mencoba mempertahankan ekspresi yang tegas, tetapi ada kerentanan di matanya yang tidak bisa diabaikan Ryan.
Ryan mendesah lagi, seolah menerima sesuatu yang tak terelakkan, lalu kata-katanya keluar dengan nada rendah, hampir serak, tetapi penuh dengan maksud: "Kalau begitu... aku akan menjadikanmu wanitaKU." Pernyataan itu tegas, seolah-olah dia sedang menandai wilayah, tetapi ada juga janji di sana, sesuatu yang melampaui fisik.
Jantung Riko berdegup kencang, dan sebelum ia dapat mencerna apa yang terjadi, Ryan melompat ke atasnya. Ia langsung menuju payudara kirinya, menggigit dengan penuh hasrat yang membuat Riko mengerang keras, terkejut dengan intensitasnya. Tangannya meremas payudara kanannya, dan Riko merasakan kejutan kenikmatan mengalir di sekujur tubuhnya. Kakinya terpelintir di balik selimut, dan ia mencengkeram bantal dengan erat, seolah-olah ia membutuhkan sesuatu untuk dipegang sementara sensasi itu menguasainya.
Ryan terus menggigit dan menghisap payudaranya, bibir dan lidahnya membuat gerakan memutar di sekitar putingnya yang kecil dan merah muda, yang, terlepas dari segalanya, terasa keras dan sensitif di mulutnya. Riko mulai menjerit dalam kenikmatan, kata-katanya keluar dengan terengah-engah: "R-Ryan! Kau akan membuat payudaraku... Ah! Kau akan—" Namun sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Ryan menyegel mulutnya dalam ciuman penuh gairah. Itu adalah ciuman orang dewasa, intens, dengan lidah mereka saling bertautan dengan kuat, seolah mencoba menyampaikan semua hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Saat Riko mencoba mengatur napas, tangan Ryan yang lain berpindah dari payudaranya ke perutnya, membuat gerakan ringan, seperti pijatan. Napas Riko menjadi berat, gairah menguasainya, dan dia merasakan tubuhnya merespons dengan cara yang belum pernah dia alami sebelumnya. Tangan Ryan kemudian turun ke celana longgarnya, memasukinya sementara Riko meremas tangannya dengan pahanya, seolah mencoba mengendalikan sensasi yang membanjirinya.
Erangannya manis, melodi yang nikmat di telinga Ryan, dan ia merasakan kehangatan yang tumbuh di tubuhnya. Di sana, ia menemukan bunga, hangat, basah, dan lengket, dan jarinya mulai melingkari klitoris Riko dengan lembut, membuatnya meremas tangannya di dadanya, seolah-olah ia membutuhkan sesuatu untuk dipegang.
Ryan melepaskan ciumannya, terengah-engah, saat air liur mereka menetes ke payudara Riko, yang sudah basah, jejak hasrat Ryan. Dia mengusap dagu Riko, menatap matanya dengan intens yang membuat bulu kuduk Riko merinding. "Sudah kehabisan napas? Kita akan melangkah lebih jauh dari ini…" Suaranya lembut, tetapi sarat dengan janji yang membuat Riko menelan ludah.
Dia berbicara dengan suara gemetar dan lemah, hampir seperti bisikan: "S-silakan… Kamu bilang kamu akan membuatku…" Dia memeluk Ryan, putingnya menyentuh dada Ryan, dan panas di antara mereka hampir bisa dirasakan.
Pada saat itu, Ryan memasukkan jarinya ke dalam tubuh Riko, membuatnya mengerang saat kakinya gemetar. Dia jatuh kembali ke bantal, merentangkan kakinya untuk Ryan, yang melepas celananya, meninggalkannya hanya dengan celana dalam merah mudanya yang menggemaskan, yang benar-benar basah kuyup. "Kamu... panas dan ketat, Riko..." katanya, wajahnya dekat dengan wajah Riko, suaranya serak dan penuh nafsu.
Riko menutupi wajahnya dengan lengannya, mencoba menyembunyikan rasa malu yang dirasakannya, tetapi erangannya yang manis mengkhianatinya. "T-tidak perlu mengatakan hal-hal itu..." Suaranya malu-malu, diselingi erangan yang keluar dari mulutnya.
Ryan menggerakkan jarinya sedikit lebih jauh, menjelajahi bibir vagina Riko yang hangat dan berdaging, yang sangat sensitif. Dia perlahan bergerak turun, menciumi seluruh tubuh Riko. Dia mencium lehernya dengan lembut, bergerak turun ke dadanya, menggigit putingnya yang tak tertahankan itu. Dia ingin melihatnya mengerang, tetapi setelah menggigit, dia mencium ujung kecil itu dengan penuh kasih sayang, seolah mencoba menyeimbangkan intensitas hasrat dengan sentuhan kelembutan.
Setiap gerakan, setiap sentuhan, merupakan campuran antara gairah dan perhatian, seolah-olah Ryan mencoba menyampaikan sesuatu yang melampaui fisik. Dan Riko, meskipun tenggelam dalam pusaran sensasi itu, merasa bahwa di sana, pada saat itu, ia sedang diperhatikan, diinginkan, dan, dalam beberapa hal, dicintai.
________________________________________
Tantangan Spesial!!! ✨🎉
Para pembaca yang budiman, saya memberi Anda sebuah tantangan! Jika kita berhasil menyelesaikan minggu ini di 10 besar di Webnovel atau mencapai 25 pelanggan berbayar di Patreon, saya akan merilis SEPULUH BAB SEKALIGUS di sini di Webnovel dan Patreon! 😱💖
Saya telah mencurahkan begitu banyak cinta dan usaha untuk cerita ini, dan saya telah menyiapkan begitu banyak alur cerita yang menarik dengan para karakternya! Ehehe~ 💕 Ini juga akan membantu saya lebih fokus pada cerita ini, dan saya mengandalkan kalian semua!
Ingat: 10 teratas di Webnovel atau 25 anggota berbayar di Patreon = SEPULUH BAB EKSTRA SEKALIGUS! 🎁🎊 Tantangan ini akan terus berlanjut hingga kita mencapai salah satu dari tujuan ini! Mari kita lakukan ini bersama-sama! 💪✨
Patreon.com/ErisNoSeraph