Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Chapter 2 - Selamat Datang di Sekolah Menengah Atas Pengasuhan Lanjutan | Classroom Of The Elite: Strings of The Puppeteer Master

18px

Chapter 2 - Selamat Datang di Sekolah Menengah Atas Pengasuhan Lanjutan

Halte bus tidak menawarkan sedikit pun kelegaan dari teriknya siang hari. Udara berkilauan di trotoar, tebal dan menyesakkan, seolah-olah seluruh kota telah terbungkus dalam tungku yang tak terlihat. Keringat menetes di pelipisku, berkumpul di garis rahangku sebelum menetes ke kerah seragamku yang kaku.

Orang-orang berlalu lalang dengan tergesa-gesa, gerakan mereka cepat dan penuh tujuan. Sesekali, pandangan orang-orang tertuju padaku—ada yang penasaran, ada yang acuh tak acuh, tetapi semuanya menyadari kehadiranku. Apakah karena seragamnya? Kainnya yang murni, disetrika dengan sempurna, tampak mencolok dibandingkan dengan pakaian kasual penduduk setempat. Atau apakah karena ciri-ciriku yang asing, sangat kontras dengan lautan wajah yang kukenal?

Seorang anak kecil, yang usianya tidak lebih dari lima tahun, berhenti di hadapanku. Matanya yang lebar dan penuh rasa ingin tahu menelusuri garis-garis wajahku, lalu beralih ke kain blazerku yang tidak biasa. Dengan ragu-ragu, jari-jari mungilnya terulur, menyentuh bahannya.

"Chiyo," suara seorang wanita memecah suasana, tajam dan menegur.

Anak itu tersentak dan berlari kembali ke ibunya, yang menatapku dengan waspada sebelum membawanya pergi.

Saya mengembuskan napas, merasakan simpul yang tidak nyaman mengendap di dada saya. Nona Sato memperingatkan saya tentang tatapan-tatapan itu, tentang bagaimana orang asing sering kali dianggap aneh di bagian kota ini. Namun, mengetahui dan mengalami adalah dua hal yang sangat berbeda.

Bus itu bergemuruh di depan mata, sebuah raksasa dari logam dan kaca berhenti mendadak. Pintu berdesis terbuka, dan gelombang udara dingin berembus keluar, memberikan kelegaan sesaat dari panas yang menyengat. Aku melangkah masuk, mengamati sekelilingku sambil berjalan ke bagian belakang.

Mahasiswa, pengusaha, wanita tua—masing-masing asyik dengan dunianya sendiri. Beberapa mahasiswa mengenakan seragam yang sama dengan seragam saya, wajah mereka menunjukkan campuran antara antisipasi dan kegelisahan. Beberapa berbisik dengan nada pelan, saling bertukar kekhawatiran di hari pertama.

Bus itu tersentak maju. Gerakan itu membuat saya sedikit pusing, sebuah pengingat yang jelas tentang betapa membingungkannya lingkungan baru ini.

Kemudian, terjadi pergeseran di udara.

Seorang wanita tua, lemah dan bungkuk, mencengkeram tiang di dekat pintu masuk. Garis-garis di wajahnya menunjukkan waktu, kebijaksanaan, dan kelelahan. Setiap kursi terisi. Tatapannya yang tajam beralih dari wajah ke wajah—penuh harap, lalu pasrah.

Perselisihan terjadi di dekat bagian depan.

Seorang wanita muda, suaranya tajam karena marah, melotot ke arah seorang siswa berambut pirang yang sedang bersantai di kursi prioritas. Seragamnya dikenakan dengan gaya standar, dengan kesombongan yang ceroboh. Ekspresinya, salah satu ekspresi penghinaan yang geli.

"Anda seharusnya menawarkan tempat duduk Anda kepada orang tua," bentak wanita itu sambil menyilangkan tangan.

Si pirang menyeringai, bibirnya melengkung pelan dan malas. "Kenapa harus? Aku sudah di sini lebih dulu. Bus tidak memberlakukannya sebagai hukum. Jadi, katakan padaku, kenapa aku harus pindah?"

"Itu adalah kesopanan umum," seorang pekerja kantoran wanita menimpali sambil mengerutkan kening. "Kesopanan dasar manusia."

Senyumnya melebar. "Ah, jadi moralitas ditentukan oleh kewajiban, ya? Kalau itu hal yang biasa, kenapa tidak ada yang menawarkan?" Dia menunjuk dengan halus ke penumpang lainnya, yang menghindari kontak mata atau berpura-pura tidak tahu.

Perdebatan makin memanas dan menarik perhatian. Alasan wanita itu masuk akal, tetapi provokasi yang disengaja oleh si pirang itu meresahkan.

Saya menyaksikannya dalam diam, tak tergerak.

Secara moral, dia benar. Secara logika, dia ada benarnya. Atau mungkin dia hanya seorang bajingan.

Kemudian, sesuatu berubah lagi.

Sebuah tatapan.

Bukan tatapan sekilas dan ingin tahu yang biasa kulihat, tapi sesuatu yang lebih berat—lebih tajam.

Aku menoleh sedikit, menatap sepasang iris mata keemasan di seberang lorong. Pemiliknya, seorang pria muda dengan rambut cokelat kemerahan, segera mengalihkan pandangannya.

Kecurigaan sempat berkelebat di benak saya, tetapi saya biarkan saja.

Bus berhenti mendadak. Para siswa mulai turun, obrolan mereka meluap ke udara terbuka. Saya merapikan tas saya, bersiap untuk berangkat.

Lalu—tatapan lain.

Kali ini, giliran dia.

Mata merah menyala itu menatapku, sangat kontras dengan buku yang tengah ia baca beberapa saat sebelumnya.

Dia melangkah lebih dekat. Udara di sekelilingnya terasa berat, membawa sesuatu yang tak terucapkan.

"Mengapa kamu tidak menawarkan tempat dudukmu?" tanyanya, suaranya rendah, dengan nada yang berbahaya.

Saya berkedip. "Saya tidak suka menarik perhatian," saya mengakuinya, sambil menjaga nada bicara saya tetap tenang. "Dan itu merepotkan."

Tatapannya tak goyah. Mengukur. Menghitung.

"Jadi, Anda hidup dengan filosofi membiarkan anjing tidur?"

Sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.

Saya mengangguk.

Bibirnya melengkung seperti ekspresi meremehkan. "Kalau begitu aku tidak ingin bergaul dengan orang-orang sepertimu."

Dengan itu, dia berbalik dan menghilang di antara kerumunan.

Saya melihatnya pergi, beban kata-katanya membebani saya.

Ada sesuatu yang tidak beres pada mereka.

Pilih Kategori Rak Buku

Terakhir Kamu Baca Chapter ...
LANJUT
Tags: