Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Chapter 217: Lihat Siapa yang Kembali! | Anime is an Outer God's Playground

18px

Chapter 217: Lihat Siapa yang Kembali!

Bab 217: Lihat Siapa yang Kembali!

Hingga 20 bab lanjutan + komisi di patreon.com/skyfall12!

X―x―X—x—X―x―X

(Catatan Penulis: Terima kasih sudah bertahan begitu lama, Rockstars <3)</p>

"Salam, Noxinyargan."

<!--more--><!--novelstealer x ruidrive-->

Dewa Katolik itu berbalik tajam, banyak matanya menyipit menatap sosok yang mendekat dari kehampaan. Itu Akira. Tapi ada yang salah—auranya, kehadirannya, terasa... terkontaminasi.

"Kau," desis Noxinyargan, suaranya menggema di celah itu. "Kau membawa bau busuk Achilles. Apa yang telah kau lakukan padanya?"

Akira mengangkat tangannya seolah menyerah, senyumnya tipis dan menawan. "Tenang. Aku tidak melakukan apa pun padanya. Aku dan Achilles memang bertarung. Tapi pada akhirnya, dia mengerti. Dia memilih untuk bergabung dengan tujuanku dengan sukarela."

Mata Noxinyargan menyipit lebih tajam, kecurigaan muncul. "Kau berharap aku percaya Achilles akan tunduk padamu? Seorang prajurit seperti dia? Tidak mungkin."

"Percayalah sesukamu," kata Akira, nadanya terukur dan tenang. "Tapi dia melihat kebenaran. Kegilaan Azathoth akan melahap segalanya—Nihila, Roxanne, Alice, bahkan kau. Jika kita tidak bertindak sekarang, tidak akan ada pesawat yang tersisa untuk berduka."

Latar belakang tiba-tiba berubah—bisikan samar memenuhi kekosongan, dan siluet gelap menari-nari di tepi pandangan Noxinyargan. Dia menoleh dengan cepat, tetapi tidak ada apa pun di sana.

"Cukup main-mainnya, Akira," geram Noxinyargan, suaranya sedikit bergetar. "Trikmu tidak akan mempan padaku."

Senyum Akira semakin lebar, sikapnya tak tergoyahkan. "Tipuan? Aku hanya mencoba berbicara jujur, Noxinyargan. Kaulah yang terjebak di sini, lumpuh karena keraguan, sementara dunia terbakar."

Kekosongan di sekitar mereka berputar lagi, kali ini lebih terang—perubahan mendadak menjadi hamparan luas yang bercahaya dan tak berujung. Matahari bersinar terik di atas kepala, dan tanah di bawah mereka terasa padat. Itu... rumah. Rumah Noxinyargan, tempat yang telah lama hilang ditelan waktu.

Dia terdiam, dadanya terasa sesak. "Apa ini?"

"Kenanganmu," kata Akira lembut, suaranya hampir ramah. "Kupikir itu mungkin bisa membantumu mengingat apa yang kau perjuangkan."

Tekad Noxinyargan goyah, rasa rindu yang mencekam menguasai dirinya. Tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya sambil mendengus. "Tidak! Ini bohong lagi! Sebuah rekayasa!"

Akira menghela napas, pemandangan di sekitar mereka runtuh seperti pecahan kaca. Mereka kembali ke kehampaan. "Kau begitu tidak percaya. Aku datang ke sini untuk menyatukan kita, Noxinyargan, bukan untuk menipumu. Aku butuh bantuanmu. Kita semua membutuhkannya."

"Kau berkata begitu," kata Noxinyargan hati-hati, "tapi aku masih merasakan Achilles di dalam dirimu. Apa sebenarnya yang kau lakukan padanya?"

Akira melangkah lebih dekat, tatapannya tajam tetapi nadanya lembut. "Kau ingin tahu yang sebenarnya? Baiklah. Achilles menantangku, dan aku mengalahkannya. Tapi dia tidak cukup bodoh untuk mati demi harga dirinya. Dia bergabung denganku dengan sukarela karena dia mengerti taruhannya."

Kehampaan semakin gelap, bayangan merayap mendekat ke Noxinyargan, membisikkan kata-kata yang tak dapat dimengerti. Dia mundur selangkah, kepercayaan dirinya terkikis.

"Kau berbohong," bisiknya, namun keyakinan dalam suaranya goyah.

Akira mengulurkan tangannya, ekspresinya sulit ditebak. "Kalau begitu, buktikan aku salah. Jabat tanganku, Noxinyargan. Jika kau merasakan esensi Achilles dalam diriku, kau akan tahu kebenarannya. Jika aku berbohong, kau bisa menghancurkanku."

Noxinyargan ragu-ragu, setiap instingnya menyuruhnya untuk lari. Tetapi kehadiran Akira begitu kuat, kata-katanya meresap ke dalam celah-celah keraguannya. Perlahan, dengan enggan, dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Akira.

Saat tangan mereka bersentuhan, gelombang kekuatan mengalir melalui Noxinyargan, membekukannya di tempat. Matanya membelalak saat merasakannya—aura Achilles, tak salah lagi, dan lebih kuat dari sebelumnya.

"Kau…" bisik Noxinyargan, kengerian terpancar di wajahnya. "Kau menyerapnya. Kau memanfaatkannya!"

Senyum Akira berubah menjadi tatapan predator, kegelapan di sekitar mereka berputar-putar seperti badai. "Oh, Noxinyargan. Kau selalu begitu mudah tertipu. Tapi jangan khawatir—kau juga akan berguna."

Bayangan-bayangan itu menelan mereka, dan jeritan Noxinyargan hilang dalam kehampaan.

Gulungan perkamen itu, yang dulunya berisi esensi Achilles, kini berdenyut dengan energi gelap, tintanya berubah seperti sulur hidup saat menyerap Noxinyargan. Akira bisa merasakan semuanya—kekuatannya membengkak, meregang, meluas ke ketinggian baru yang tak terbayangkan. Dia telah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya, sesuatu yang terdistorsi oleh kekuatan yang telah ditaklukkannya.

Rambutnya semakin panjang dan memutih, hampir berwarna perak, seolah-olah diputihkan oleh korupsi yang merasukinya. Tubuhnya gemetar saat tanda-tanda hitam pekat menyebar di kulitnya, seperti tato dosa, bukti kebejatan yang baru saja dilakukannya—bukan lagi sekadar produk dari sistem, tetapi pelanggar hukumnya sendiri.

Napasnya berat, setiap tarikan napas terasa sangat kontras dengan kekuatan luar biasa yang mengalir dalam dirinya. Namun, ia bukan lagi anak laki-laki yang berkeliaran bebas mencari hiburan, ia adalah ayah dari sebuah keluarga yang siap membunuh siapa pun demi keluarganya.

Akira berdiri diam, matanya terbelalak menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Dia telah mengambil kekuatan dua Dewa Katolik untuk dirinya sendiri, sesuatu yang tak terbayangkan. Sesuatu yang tak termaafkan.

Namun di saat yang bersamaan, ia juga tahu bahwa tidak ada jalan untuk kembali. Kekuasaan itu miliknya. Dan bersamanya datang sebuah beban—kutukan karena menggunakan makhluk-makhluk yang dulunya bebas untuk memenuhi keinginan egoisnya. Semua itu demi melindungi orang-orang yang ia sayangi.

"Ini... ini terasa enak," gumamnya pada diri sendiri, terengah-engah. "Tidak, ini terasa sempurna."

Celah Dimensi Nexus. Hanya segelintir orang yang memiliki akses ke sana—Azathoth, Nihila, dan Howard. Tapi sekarang, itu adalah wilayah kekuasaannya. Dia bisa merobek ruang dan waktu sesuka hati, menyelinap melalui celah-celah yang dulunya terlarang baginya.

Tubuh Akira berdenyut dengan kekuatan yang baru ditemukannya saat ia mulai fokus, memanggil energi yang kini telah menyatu ke dalam dirinya. Dunia di sekitarnya mulai melengkung, langit terbelah saat tatanan realitas tunduk pada kehendaknya.

"Ayo pergi," katanya, suaranya terdengar rendah dan menggeram, hampir tak bisa dikenali dari sosoknya yang dulu. Matanya bersinar dengan cahaya yang intens dan tidak wajar, dan dalam sekejap, dia menghilang ke dalam celah itu, meninggalkan dunia yang baru saja diubahnya.

X―x―X—x—X―x―X

Celah Dimensi adalah tempat yang tak tersentuh oleh aturan realitas, tempat di mana hukum fisika tidak berlaku. Kehampaan tak terbatas adalah kanvas bagi makhluk-makhluk seperti Azathoth dan Howard, yang kekuatannya melampaui pemahaman.

Azathoth, dengan kehadirannya yang kacau memancar di seluruh celah, menghadap Howard, makhluk yang telah menyatu dengan Nihila. Keheningan celah itu terasa mencekam saat mereka berdiri, tidak bergerak, namun kehadiran mereka saja tampaknya menciptakan riak di udara.

Tanpa peringatan, Azathoth mengulurkan tangannya. Namun, alih-alih serangan fisik, seolah-olah waktu itu sendiri melengkung di sekelilingnya. Itu bukan sihir, bukan kekuatan fisik—itu adalah bentuk kekacauan yang paling murni, kemampuan untuk merobek gagasan tentang Howard dari kenyataan itu sendiri.

Tubuh Howard berkedut, seolah-olah konsep tentang dirinya sedang dihapus. Wujudnya mulai terdistorsi, seperti gambar yang ditimpa di televisi tua. Namun, alih-alih panik, Howard tersenyum.

"Kau pikir kau bisa membuatku terlupakan?" Suara Howard bergema dari celah-celah realitas, lebih keras daripada kekacauan di sekitar mereka. Dia menjangkau lipatan ruang, menarik dari celah itu sendiri, menciptakan kembali dirinya. Di mana Azathoth mencoba menghapusnya, Howard membentuk kembali esensi keberadaannya, menciptakan lapisan eksistensi baru yang tak terlacak, tak terdistorsi.

Kehadiran Howard sendiri mulai menyebar seperti sebuah konsep, menjadi distorsi di ruang sekitar Azathoth. Seolah-olah gagasan eksistensinya meresap ke dalam celah, sebuah kekosongan di dalam kekosongan.

Azathoth, merasakan perubahan itu, meraung menantang. Wujudnya terpecah menjadi ribuan bentuk kacau dan tak berbentuk, masing-masing merupakan perwujudan dari aspek kehancuran dan kegilaan yang berbeda. Mereka menyerang bukan sekadar pukulan fisik, tetapi sebagai kemungkinan tak terbatas, seribu versi Azathoth yang berbeda saling bertabrakan sekaligus.

Howard tidak berada di sana untuk melawan mereka dalam arti tradisional. Sebaliknya, dia menggunakan kekacauan mereka sendiri untuk melawan mereka. Dia tidak hanya menghindar atau menangkis—mereka sekarang menjadi bagian dari dirinya. Dengan setiap manifestasi kekacauan Azathoth, Howard menyerapnya, menenunnya ke dalam jalinan keberadaannya. Tetapi dia tidak hanya menyerap kekacauan itu; dia memahaminya, membengkokkannya sesuai kehendaknya dan membentuknya kembali menjadi sesuatu yang baru.

Dengan jentikan jari terakhirnya, Howard membentuk kembali esensi Azathoth menjadi paradoks yang sempurna—suatu bentuk kehancuran yang pada akhirnya akan mengarah pada penciptaannya sendiri. Berbagai wujud Azathoth membeku di tempatnya, terperangkap dalam siklus kehancuran diri dan kelahiran kembali yang tak berujung.

"Kau bukanlah dewa kekacauan," bisik Howard, melangkah maju, kehadirannya menarik seluruh keberadaan Azathoth ke dalam kendalinya. "Kau hanyalah tawanan kekacauan itu."

Pada saat itu, raungan kacau Azathoth mereda menjadi keheningan. Wujudnya runtuh dengan sendirinya, tidak hancur, tetapi terbentuk kembali, sebuah lingkaran entropi dan penciptaan tanpa akhir yang terkunci di tempatnya oleh kehendak Howard.

Saat itulah celah dimensi menyambut penyusup baru. Akira berdiri di sana, matanya berbinar-binar bercampur geli dan penasaran. Dia memiringkan kepalanya ke arah entitas aneh itu, objek yang menyimpan esensi Azathoth. "Selamat datang di Nexus," suara Howard terdengar lantang, penuh otoritas dan geli. "Kurasa kau di sini untuk menyelamatkan putraku dari pendidikannya," Howard menunjuk ke arah objek itu, kata-katanya diselingi sedikit humor gelap.

Tawa Akira terdengar pelan, hampir menyeramkan saat ia menatap benda itu, senyum penuh arti terukir di wajahnya. "Oh, Howard, apa yang tidak akan kulakukan untuk melihat wajah Azathoth? Pasti dia sedang gelisah karena tahu dialah yang berubah wujud dan bukan aku." Kata-kata Akira dipenuhi dengan kebencian, tetapi juga diwarnai dengan rasa geli yang tulus.

Howard balas menyeringai, matanya berbinar dengan rasa bangga yang jarang terlihat saat ia menatap Akira. "Aku tahu segalanya tentangmu, Akira. Bagaimana keberadaanmu dimulai dari tinta dan pena sederhana, bagaimana kau bangkit dari kehampaan menjadi sesuatu yang jauh melampaui imajinasi siapa pun. Aku bangga menyebutmu sahabat terbaik putraku." Kata-katanya terasa bermakna, mengisyaratkan sesuatu yang lebih, pengakuan yang lebih dalam akan kekuatan Akira, tetapi juga peringatan yang halus.

Senyum sinis Akira memudar sesaat, matanya menyipit. "Kau seharusnya sudah mati," balasnya, suaranya dipenuhi rasa tidak percaya dan jijik. "Aku tidak percaya Alice memberimu kubus itu. Meskipun kurasa itu satu-satunya cara bagi kita untuk menyeberang."

Howard terkekeh sinis, suaranya bergema di luasnya Nexus. "Namun di sini kau berada, lebih kuat dari sebelumnya." Tatapannya semakin tajam saat ia fokus pada Akira, secercah persetujuan aneh terpancar di matanya. "Hal yang sama bisa dikatakan untukmu. Kau seharusnya sudah mati, Akira. Seandainya ROB tidak mereinkarnasimu, kau hanya akan tetap menjadi fragmen imajinasi seseorang yang terlupakan."

Jantung Akira berdebar kencang, keterkejutannya sangat terasa. "K-kau kenal ROB?" Suaranya menunjukkan momen kerentanan yang jarang terjadi, sebuah keretakan dalam kepercayaan dirinya yang selama ini tak tergoyahkan.

Howard bersandar, sosoknya semakin mengintimidasi saat ia menjulang di atas Akira. "Aku tahu banyak hal, sayang," kata Howard, suaranya halus, dipenuhi kekuatan dan pengetahuan. "ROB punya cara aneh untuk ikut campur dalam kehidupan orang-orang seperti kau dan aku. Dia semacam dalang, menarik tali takdir. Tapi jangkauannya tidak tak terbatas. Bahkan dia pun tidak bisa mengendalikan apa yang telah dimulai."

Akira memegang gulungan perkamen yang berisi Achilles dan Noxinyargan, merasakan esensi gabungan mereka mengalir dalam dirinya. Terlepas dari kekuatan itu, ada sesuatu yang hilang. Howard, yang tidak terkesan, mengamatinya dengan cermat.

"Kau tahu," kata Howard, "aku bisa mempertemukanmu dengan ROB jika kau mau."

Akira berhenti sejenak, mempertimbangkan. Kekuatan yang dia cari sudah dekat. "Baiklah," jawabnya, suaranya tenang namun penuh perhitungan.

Howard mengangkat alisnya. "Kau yakin? Begitu kau bertemu dengannya, semuanya akan berubah."

Senyum Akira kembali, kali ini lebih dingin. "Aku yakin."

Nexus di sekitar mereka bergeser, seolah mengantisipasi keputusan tersebut. Senyum sinis Howard semakin dalam, dan dengan satu gerakan, ruang di antara mereka mulai melengkung.

"Baiklah," kata Howard. "Bersiaplah, Akira."

Jantung Akira berdebar kencang, tetapi sikapnya tetap tenang. Tidak ada jalan untuk mundur sekarang. Langkah terakhir akan segera dimulai.

X―x―X—x—X―x―X

Ingin membaca 20 bab lebih awal dan melihat karya eksklusif terbaru?

Hanya di: Patreon.com/Skyfall12

Pilih Kategori Rak Buku

Terakhir Kamu Baca Chapter ...
LANJUT
Tags: