Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Chapter 210: Anomali | Anime is an Outer God's Playground

18px

Chapter 210: Anomali

Bab 210: Anomali

Gelombang kekuatan itu menerobos Bidang Nexus seperti getaran dahsyat, menghancurkan ketenangan yang telah bertahan selama berabad-abad. Nihila, yang duduk di singgasana kristalnya, merasakan guncangan itu hingga ke inti jiwanya. Mata emasnya sedikit melebar—ekspresi yang tidak biasa bagi Makhluk Tertinggi Bidang Nexus.

"Atas nama eksistensi..." gumamnya, ketenangannya sesaat sirna. Dia menjentikkan jarinya, dan benang-benang multiverse terbentang di hadapannya. Pusat gangguan itu jelas terlihat—Alam Athena.

Achillesial tiba-tiba duduk tegak dari sudutnya, melupakan pedangnya. "Itu... tidak normal." Nada suaranya, yang biasanya acuh tak acuh, kini terdengar sangat khawatir.

Noxinyargan sudah berdiri, postur tubuhnya yang biasanya rileks kini kaku. "Itu bukan sekadar anomali. Itu terkonsentrasi. Terarah."

<!--more--><!--novelstealer x ruidrive-->

Tatapan Nihila menembus benang-benang itu, jari-jarinya menelusurinya saat ia berusaha menentukan sumbernya. Suaranya merendah, dingin dan terukur. "Di alam ini tidak ada subjek yang mampu memancarkan tingkat kekuatan seperti itu. Tidak ada sama sekali."

Keheningan sesaat menyelimuti mereka bertiga. Kemudian, ekspresi Nihila berubah muram. Tangannya mencengkeram tepi singgasananya. "Seorang Penyeberang?" Kata-kata itu keluar dari bibirnya seperti kutukan. "Tidak... tidak mungkin. Aku telah menyegel alam ini terlalu rapat. Tidak ada yang bisa masuk tanpa sepengetahuanku."

Namun pikiran yang mengganggu itu tetap ada, mencengkeram sudut pikirannya. Bagaimana jika dia mencoba lagi? Bagaimana jika Azathoth, sisi gelapnya, entah bagaimana telah menembus batas eksistensi sekali lagi? Ketenangannya semakin hancur, digantikan oleh ledakan amarah.

"Jika ini perbuatan Azathoth, aku bersumpah akan mencabik-cabiknya sendiri," desisnya. "Pengkhianat itu tidak akan menggunakan alam ini sebagai medan perang lagi."

Suara Achillesial memecah amarahnya. "Jika memang dia, apa rencananya?"

Nihila bangkit dari singgasananya, sosoknya membayangi multiverse yang berkilauan. "Kita temukan sumbernya. Sekarang juga. Jika itu Azathoth, dia akan menyesali ambisinya. Dan jika bukan..."

Matanya menyala-nyala, memancarkan intensitas yang membuat Achillesial dan Noxinyargan mundur selangkah.

"Kalau begitu, ada orang lain yang berani bermain-main dengan kekuasaan yang tidak mereka pahami. Dan aku akan memastikan mereka menyesalinya sama seperti aku."

Dia menoleh ke Achilles dan Nox. "Pergi. Jangan sampai ada satu pun petunjuk yang terlewat. Aku ingin jawaban. Segera."

Tanpa sepatah kata pun, keduanya lenyap ke dalam kehampaan, meninggalkan Nihila sendirian. Dia menatap benang Alam Athena sejenak lagi, jari-jarinya mengepal erat.

"Siapa pun kau," bisiknya, suaranya bergetar karena campuran kemarahan dan kegelisahan yang jarang terjadi, "kau telah membangkitkan sesuatu yang jauh melampaui pemahamanmu."

X―x―X—x—X―x―X

Roxanne berjalan di samping Dan, matanya yang merah menyala berkilauan samar-samar di bawah cahaya sore. Hari itu sama sekali tidak biasa. Untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa dia memiliki kekuatan di luar pemahaman—kekuatan yang menentang logika, menulis ulang realitas, dan membengkokkan alam semesta sesuai keinginannya.

Dan, yang sama sekali tidak menyadari apa yang telah terjadi, terus mencuri pandang dengan gugup ke arahnya. Ada sesuatu tentang dirinya yang terasa... berbeda, bahkan lebih berwibawa dari biasanya.

Namun, Roxanne tenggelam dalam pikirannya. Dia memutar ulang kejadian itu berulang kali dalam benaknya: guru yang menghilang, ruang kelas yang membeku, dan kemampuannya untuk memutar kembali semuanya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Itu bukan hanya aneh—itu juga mengasyikkan.

Saat mereka mendekati rumah besar itu, Dan akhirnya memecah keheningan. "Kau diam saja. Apa kau baik-baik saja?"

Roxanne meliriknya, seringai kecil muncul di bibirnya. "Aku baik-baik saja. Hanya... sedang berpikir."

"Tentang apa?" desaknya, penasaran namun hati-hati.

"Tentang bagaimana perasaan hari ini... berbeda." Dia berhenti sejenak, lalu menoleh padanya dengan intensitas yang membuat Dan terhenti. "Dan, bukankah menurutmu ini lucu? Betapa rapuhnya segalanya? Betapa mudahnya semuanya bisa berubah... atau hancur?"

Dan menelan ludah, tidak yakin bagaimana harus menjawab. "Eh... kurasa?"

Senyum sinis Roxanne semakin lebar saat mereka sampai di gerbang depan. "Kalian tidak perlu menebak. Kalian akan segera tahu."

Dia mendorong gerbang hingga terbuka, melangkah masuk ke dalam perkebunan yang luas itu. Baginya, hari ini adalah sebuah pencerahan. Dia bukan hanya seorang gadis lagi. Dia adalah sesuatu yang jauh lebih hebat. Dan meskipun dia belum sepenuhnya menguji batas kemampuannya, dia tidak sabar untuk menjelajahinya lebih jauh.

Dan mengikutinya dari belakang, kegelisahannya semakin bertambah. Apa pun yang telah berubah pada Roxanne, bukan hanya kekuatannya. Sesuatu yang lebih dalam sedang bergeser—dan dia tidak yakin apakah dia siap untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.

Di dalam kamar tidurnya yang tenang, Roxanne merasakan gelombang kegembiraan. Wahyu hari itu telah mengungkap kemampuan yang selama ini hanya ia impikan. Dengan Alice pergi dan Dan asyik menonton televisi, ia memanfaatkan kesempatan untuk menggali lebih dalam kekuatan barunya.

Kemudian, sebuah ide terlintas di benaknya, "Aku menginginkan uang." Lalu, Roxanne mulai menatap tumpukan uang yang muncul begitu saja. Tumpukan itu bersih, tanpa tanda, dan berbau segar. Dia meraba-raba tumpukan itu dengan jarinya, tetapi kegembiraannya dengan cepat berubah menjadi ketidakpedulian.

"Apa gunanya uang?" gumamnya sambil melemparkan seikat uang ke seberang ruangan. "Aku bisa mendapatkan apa pun yang aku inginkan tanpa uang."

Dia berdiri, matanya yang merah padam bersinar samar saat dia menyadari sejauh mana kekuatannya yang sebenarnya. Seluruh dunia, setiap makhluk, setiap benda, setiap hukum fisika—semuanya berada di bawah kendalinya. Dia tersenyum, bukan karena kesombongan, tetapi dengan kesadaran yang tenang akan potensinya yang tak terbatas.

Pikirannya semakin gelap. Jika dia bisa memanggil kekayaan, mengapa tidak memanggil kekuatan? Jika dia bisa menciptakan, mengapa tidak menghancurkan? Sensasi bereksperimen kembali menghampirinya. Roxanne mengulurkan tangannya, membayangkan kota yang ramai di luar rumah besarnya.

"Aku berharap..." bisiknya, suaranya terdengar berat dan menyeramkan, "kota ini sunyi."

Tiba-tiba, deru lalu lintas yang jauh, obrolan orang-orang, dan sesekali suara sirene mobil polisi berhenti. Dunia di luar jendelanya sunyi mencekam. Dia mengintip keluar dan melihat mobil-mobil yang tak bergerak, orang-orang yang membeku di tengah langkah, dan burung-burung yang melayang di langit.

Dia tertawa pelan, suaranya bergema di udara yang kosong. "Ini terlalu mudah."

Namun Roxanne belum selesai. Dia melambaikan tangannya, dan bangunan-bangunan kota mulai runtuh seolah-olah raksasa tak terlihat sedang menghancurkannya. Kaca pecah, beton terbelah, dan api berkobar. Namun, tidak ada jeritan yang terdengar—waktu masih membeku.

Dia menunduk lagi menatap tangannya, menggerakkan jari-jarinya. "Aku bisa menghancurkan dunia ini dan membangunnya kembali sesuka hatiku. Aku bisa membuat semua orang tunduk padaku… atau menghapus mereka semua."

Detak jantungnya ber accelerates saat memikirkan hal itu. Untuk pertama kalinya, Roxanne merasakan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar rasa ingin tahu—sebuah dahaga. Dahaga akan lebih banyak, akan kendali, akan dominasi mutlak. Pikiran itu memabukkan.

Roxanne berdiri di tepi balkon rumah mewahnya, angin malam yang dingin menerpa wajahnya. Dia menatap bintang-bintang, senyum nakal terukir di wajahnya.

"Aku ingin terbang," katanya pelan, dan dalam sekejap, tubuhnya terangkat dengan mudah dari tanah.

Ia naik semakin tinggi, rambutnya berkibar saat menembus awan. Lampu-lampu kota di bawahnya memudar menjadi mosaik kilauan kecil sebelum menghilang sepenuhnya. Kelengkungan Bumi terlihat jelas saat ia menembus atmosfer planet ini.

Roxanne melayang di angkasa, tanpa bobot, bintang-bintang di sekitarnya berkilauan seperti berlian. Dia menyadari sesuatu: dia tidak perlu mengharapkan udara. Tubuhnya berfungsi dengan sempurna, bahkan dalam ruang hampa.

"Jadi, itu benar," gumamnya, suaranya terdengar takjub. "Aku benar-benar putri ayahku. Terima kasih, Ayah."

Dia memejamkan matanya sejenak, secercah emosi langka melintas di wajahnya. Namun perasaan itu cepat sirna saat mata merahnya terbuka lebar, fokus pada planet bercahaya di bawahnya.

Roxanne mengangkat tangannya, jari-jarinya menunjuk ke daratan di bawah seperti predator yang mengincar mangsanya. Tatapannya tertuju pada Eropa, dan senyum sinis tersungging di bibirnya.

"Aku ingin separuh Eropa lenyap!" serunya, suaranya menggema di tengah kesunyian.

Dampaknya langsung terasa dan sangat dahsyat. Semburan energi kolosal keluar dari tangannya yang terulur, menembus atmosfer Bumi seperti pedang ilahi. Tanah bergetar saat seluruh wilayah lenyap dalam kilatan cahaya yang menyilaukan. Negara-negara hancur menjadi abu, kota-kota runtuh, dan jutaan nyawa melayang dalam sekejap.

Dari luar angkasa, Roxanne menyaksikan kehancuran yang terjadi. Peta Eropa yang dulunya familiar kini memiliki bekas luka menganga—kekosongan di mana separuh wilayahnya telah musnah.

Dia terkekeh, suaranya dingin dan tanpa penyesalan. "Aku bisa melakukan ini sepanjang hari," gumamnya, berputar-putar dalam kehampaan ruang angkasa.

Roxanne kini mengarahkan pandangannya ke planet-planet. Dengan suara tenang namun berwibawa, dia menyatakan, "Biarkan Venus dan Saturnus bertabrakan."

Dalam sekejap, kedua planet itu menyimpang dari jalurnya, tertarik satu sama lain oleh kekuatan yang tak terbendung. Beberapa saat kemudian, tabrakan dahsyat terjadi, menghancurkan kedua benda langit itu dan mengirimkan puing-puing yang tersebar di angkasa.

Roxanne menyeringai, matanya yang merah menyala. "Apa selanjutnya?" gumamnya, alam semesta kini menjadi taman bermainnya.

Roxanne melirik matahari dan menyeringai. "Biarlah ada lubang hitam di tempatnya," katanya dengan santai.

Dalam sekejap, cahaya menyilaukan matahari runtuh, digantikan oleh kehampaan gelap yang berputar-putar. Tarikan gravitasi lubang hitam yang sangat besar mulai melahap planet-planet di sekitarnya, menyeret tata surya ke dalam kekacauan.

Roxanne menatap ke arah kehampaan ruang angkasa yang luas, matanya berkilauan dengan hasrat gelap. "Biarkan mimpi buruk itu jatuh ke lantai," bisiknya.

Tiba-tiba, kehampaan dipenuhi dengan awan gelap yang berputar-putar, masing-masing berbentuk makhluk mengerikan dan menjijikkan yang menentang hukum alam. Mereka melayang tanpa tujuan, menyebarkan ketakutan ke setiap sudut alam semesta. Bintang-bintang berkelap-kelip ketakutan saat mimpi buruk ini mulai terbentuk di ruang angkasa di antara planet-planet, berputar-putar di kosmos, sebuah pengingat yang menakutkan bahwa bahkan luasnya alam semesta pun dapat dipenuhi dengan kengerian yang tak terbayangkan.

Roxanne menyeringai, menyaksikan teror yang telah ia ciptakan terbentang di kegelapan yang tak terbatas. Tak seorang pun aman. Bahkan bintang-bintang sekalipun.

"Dan sekarang, poof. Semuanya hilang!" katanya sambil menjentikkan jarinya.

Dalam sekejap, waktu berputar mundur, dan semua kehancuran, mimpi buruk, dan perubahan kacau yang telah ia sebabkan lenyap.

Roxanne mendapati dirinya kembali di kamarnya, kekuatan dahsyat yang dulu dimilikinya kini terkendali di dalam dirinya. Dia duduk tenang, pikirannya berpacu saat dia mencoba memahami sepenuhnya sejauh mana kemampuannya.

Pikiran Roxanne berkecamuk saat ia memikirkan ayahnya, Akira, dan betapa ia sangat merindukannya. Kerinduan di hatinya semakin kuat setiap saat, dan ia memejamkan mata erat-erat, memfokuskan seluruh energinya pada keinginan terbesarnya. Ia berharap ayahnya muncul, berada di sisinya, untuk mengisi kekosongan yang dirasakannya.

Namun, tidak terjadi apa-apa.

Ruangan itu tetap tidak berubah. Tidak ada pergeseran kosmik, tidak ada penampakan Akira secara tiba-tiba di hadapannya. Dunia tidak tunduk pada kehendaknya.

Frustrasi mendidih di dalam dirinya, amarah membuncah saat menyadari bahwa ada sesuatu, semacam batasan tak terlihat pada kekuatannya. Dia merindukannya lagi, kali ini lebih putus asa, suaranya pelan namun tegas saat dia memanggil alam semesta.

Tetap saja, tidak ada apa-apa.

Dia bisa mengendalikan waktu, membentuk kembali realitas, memanipulasi tatanan eksistensi itu sendiri. Tapi ini—ini di luar kemampuannya. Satu-satunya hal yang benar-benar dia dambakan, kehadiran ayahnya, berada di luar jangkauannya.

Tangannya mengepal, perasaan tak berdaya yang luar biasa itu mengejutkannya. Terlepas dari semua yang bisa dia lakukan, tidak ada cara untuk membawanya kembali, betapa pun dia menginginkannya. Ini adalah pertama kalinya dalam waktu yang lama Roxanne merasa kecil, tidak berarti di hadapan keinginannya sendiri. Beban keterbatasannya sendiri menekannya, dan dia tidak bisa menghilangkan rasa sakit di dadanya.

Dan bergegas masuk, matanya membelalak khawatir saat mendengar isak tangis dari kamar Roxanne. Dia belum pernah melihat Roxanne seperti ini sebelumnya, kepercayaan dirinya yang biasanya teguh hancur oleh emosi yang meluap dalam suaranya.

Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan lembut, tidak ingin mengganggunya lebih lanjut. Roxanne meringkuk di tempat tidur, wajahnya tertunduk di tangannya saat air mata mengalir di pipinya. Melihatnya begitu rapuh membuatnya terpukul lebih dari yang ia duga. Ia belum pernah melihatnya menunjukkan kelemahan, sekali pun.

"Hei," katanya lembut, sambil duduk di sampingnya di tempat tidur. "Kamu tidak harus melalui ini sendirian."

Roxanne mendongak, wajahnya yang basah oleh air mata bertemu dengan tatapan khawatir pria itu. Ia segera menyeka matanya, berusaha menenangkan diri, tetapi rasa sakit di matanya tak terbantahkan. "Aku sangat merindukan Ayah!!!" serunya, suaranya bergetar. "Aku tidak peduli dengan apa pun, aku hanya ingin dia kembali!"

Hati Dan terasa sakit. Dia tidak yakin harus berkata apa, tetapi dia mengulurkan tangan, menariknya ke dalam pelukan lembut. "Aku mengerti," bisiknya. "Aku tahu kau merindukannya. Tapi kau tidak sendirian. Aku di sini untukmu, oke?"

Isak tangis Roxanne sedikit mereda saat dia bersandar padanya, kehangatan kehadirannya memberinya sedikit kenyamanan, meskipun hanya sesaat.

Untuk sesaat, beban dunia terasa sedikit berkurang, dan dia membiarkan dirinya apa adanya, bersandar pada dukungan Dan saat pria itu dengan tenang memeluknya.

X―x―X—x—X―x―X

Ingin membaca 20 bab lebih awal dan melihat karya eksklusif terbaru?

Hanya di: Patreon.com/Skyfall12

Pilih Kategori Rak Buku

Terakhir Kamu Baca Chapter ...
LANJUT
Tags: